Kapribaden Header
Home Romo Herucokro Semono Kapribaden Organisasi Pengalaman Sejati Tanya Jawab F.A.Q. Kontak
 
Home » Kapribaden » Buku Hidup Bahagia » Halaman 16
 
Buku Hidup Bahagia
   
Halaman : [1] ... [14] [15] [16] [17] [18] ... [33]
 

 

Kepandaian, kemampuan, kekayaan, kekuasaan, dan lain-lain yang ada pada diri kita, akan selalu digunakan oleh Hidup, dengan perantaraan diri kita, untuk hal hal yang dikehendaki Pemilik dari semua itu, yaitu Tuhan sendiri.

Hidup itu sama, sebenarnya Satu, (Urip iku podo, sejatine Siji).

Maka, kalau Penghayatan ini, dihayati dan diamalkan (“dhilakoni”) oleh seluruh anggota keluarga, kita akan merasakan hasilnya.

Rasa anggota keluarga yang satu selalu berhubungan dengan rasa anggota keluarga yang lain. Sambung rasa setiap saat.

Karena itu, keluarga akan selalu dalam suatu kesatuan yang kokoh-erat, harmonis, penuh diliputi Rasa Bahagia yang sejati.

Manusia, terbatas oleh dimensi ruang dan waktu. Manusia terbatas kemampuan akal-pikirannya.

Hidup tidak mengenal keterbatasan keterbatasan itu. Hidup bisa melakukan, mengatur apa saja, yang akal manusia tidak sampai, dan bahkan menurut akal manusia dikatakan tidak mungkin.

Manusia menyebut mujijat, atas kejadian kejadian yang akalnya tidak sampai. Bagi Hidup, tidak ada mujijat.

Para Penghayat Kapribaden telah banyak membuktikan, sesuai lakonnya masing masing, terjadinya hal hal yang tidak masuk akal, tetapi benar benar terjadi. Dan semuanya pasti baik dan benar, serta membuat tentram (bahagia) si Penghayat.

Pembuktian pembuktian (“paseksen”) itu, diberikan oleh Hidup, agar Manusianya, makin lama makin yakin akan kuasanya Hidup.


Kelanjutannya


Bagaimana?

Apakah setelah membaca uraian di depan itu, masih ingin dan masih berniat untuk menjalani Laku ini, dengan tujuan Hidup tenteram (Bahagia) di dunia dan akhirnya bisa Manunggal dengan Yang Maha Suci ?

Pertimbangkan dulu masak masak.

Di dunia ini, ditawarkan ribuan macam cara dan jalan bagi manusia dalam menjalani kehidupan dan penghidupan.

Termasuk diantaranya, faham yang mengatakan, hidup di dunia cuma sekali. Raih kesenangan dan kenikmatan sebanyak-banyaknya, masa bodoh nantinya.

Laku ini, tidak menakut-nakuti orang, agar orang mau begini atau begitu. Juga tidak menjanjikan sesuatu (“ngiming-iming”) agar orang melakukan ini dan itu. Apapun yang dikerjakan Penghayatnya, adalah atas kehendak dirinya sendiri (dalam arti Hidup-nya), dan akan dirasakan, dibuktikan sendiri sendiri, hasilnya.Yang tekun menjalaninya (artinya selalu patuh pada Hidup), tentu saja banyak bukti didapatnya banyak manfaat dirasakannya. Sebaliknya, yang setengah setengah, juga setengah setengah pula hasil yang didapatnya. Hidup itu adil. Manusia, bagaimanapun bijaksananya, tidak ada yang adil dalam arti sebenarnya.

Yang menyimpangpun (menyalahi kehendak Hidup), juga tidak menunggu kelak, segera merasakan buktinya (akibatnya), Ini diterima sebagai petunjuk pula. Hanya dalam bentuk kebalikan, agar kita tidak mengulanginya.

 

Copyright © 2005-2026 Kapribaden - V.1.9. All rights reserved.